Lentera
Doa
Trek.. trek.. tok...tok...tuk..
sahur... sahur. Suara anak jalanan yang turut membangunkan sahur memakan
telingaku. Di rumah kardus inilah aku berbagi rasa dan ketika ada hujan selalu
mencari tempat untuk mengungsi. Lebih
baik ini dari pada lima tahun lalu aku hanyalah anak yang diperbudak penculik
untuk mengemis dan kini aku hanya sendiri menghidupi diriku dan membantu anak
jalanan lainnya dengan menjual koran. Trek.. trek.. tok...tok...tuk.. sahur...
sahur. Suara membangunkan sahur saling beradu seketika aku bangun dari hidupku,
entah mengapa aku bangun dalam keadaan sujud.
Sahur pertama hanya air putih yang menemani.
Karena aku hanya anak jalanan yang hidup sebatang kara dan hanya doa
kusampaikan. Karena uang Minggu ini habis untuk membayar sekolah. Hidup di kota
metropolitan ini semua serba uang dan disinilah aku bisa bertahan dengan
mengais rezeki penjualan koran. Sebelum sahur aku selalu sholat tahajud seperti
biasa dan berdoa supaya kerja,sekolah hari ini lancar juga impianku bisa diridhoi
Allah SWT. Meskipun aku hanya anak jalanan tapi aku tak ingin meminta-minta.
Alhamdulillah hari ini bisa sahur semoga besok puasa lancar. Tek...tek...tek...
dung...dung...dung.. suara adzan subuh pun menggema, aku segera pergi ke
musholla dengan mukenah yang sudah berubah warna. Terlihat anak jalanan sudah
mulai bekerja memungut sampah dan banyak pedagang menata di kiosnya.
