Jumat, 15 Februari 2013

lentera

Diposting oleh Unknown di 22.35

Lentera Doa
          Trek.. trek.. tok...tok...tuk.. sahur... sahur. Suara anak jalanan yang turut membangunkan sahur memakan telingaku. Di rumah kardus inilah aku berbagi rasa dan ketika ada hujan selalu mencari tempat untuk mengungsi.  Lebih baik ini dari pada lima tahun lalu aku hanyalah anak yang diperbudak penculik untuk mengemis dan kini aku hanya sendiri menghidupi diriku dan membantu anak jalanan lainnya dengan menjual koran. Trek.. trek.. tok...tok...tuk.. sahur... sahur. Suara membangunkan sahur saling beradu seketika aku bangun dari hidupku, entah mengapa aku bangun dalam keadaan sujud.
 Sahur pertama hanya air putih yang menemani. Karena aku hanya anak jalanan yang hidup sebatang kara dan hanya doa kusampaikan. Karena uang Minggu ini habis untuk membayar sekolah. Hidup di kota metropolitan ini semua serba uang dan disinilah aku bisa bertahan dengan mengais rezeki penjualan koran. Sebelum sahur aku selalu sholat tahajud seperti biasa dan berdoa supaya kerja,sekolah hari ini lancar juga impianku bisa diridhoi Allah SWT. Meskipun aku hanya anak jalanan tapi aku tak ingin meminta-minta. Alhamdulillah hari ini bisa sahur semoga besok puasa lancar. Tek...tek...tek... dung...dung...dung.. suara adzan subuh pun menggema, aku segera pergi ke musholla dengan mukenah yang sudah berubah warna. Terlihat anak jalanan sudah mulai bekerja memungut sampah dan banyak pedagang menata di kiosnya.
Sepulang dari musholla langsung aku berangkat dengan memakai seragam sekolah untuk mengambil stok koran dan mengantarkan ke rumah-rumah pelangganku. Hari sudah mulai siang aku berlari menuju sekolah dengan ngos-ngosan hampir aja tubuhku kaku lunglai. Di sekolah pun aku terlambat dan tidak dibolehkan masuk,namun aku dipanggil bapak kepala sekolah namanya pak Ridho. Pak Ridho berbicara dengan nada menghentak “Dona kenapa kamu selalu terlambat,kemarin,sekarang,apalgi nanti lusa terlambat? Apalagi spp belum dibayar,buku belum dibayar.” Aku  menjawab dengan ketakutan “anu pak.. anu maaf pak.” Pak Ridho menghentak lagi”anu pak.. anu.. bisanya anu saja. Masih mau sekolah disini apa tidak? Ingat disini sekolah mahal kamu sudah mendapat potongan biaya 75%,belum bayar lagi dan hari ini kesempatan terakhir untuk kamu menbayar.” Dengan memohon aku menjawab”pak tolong beri saya kesempatan lagi?”. Pak Ridho menertawakanku “hah.. ha..ha..ha wani piro kamu! Sudah sekarang kamu keluar dari sini. Keluar jangan injak tanah ini kalau kamu tidak punya uang.” Dengan menangis aku keluar dari sekolah ini,meskipun begitu aku tetap menegakkan prinsipku dan aku  ilmu harus menuntut dimana aku berada juga impianku dikabulkan Allah. Karena dalam hadist mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China. Lalu aku pulang dan kembali bekerja mengais sampah di sekitar kota.
Tek...tek...tek... dung...dung...dung.. suara adzan magrib mengetuk hatiku,aku segera membatalkan puasaku dan menuju ke musholla. Sambil menunggu adzan isya aku ihktikaf di musholla. Sahur hari ini seperti hari yang lalu dan terlihat dewi malam menatapku. Pagi ini seperti biasa ku jalani dengan senyuman hati dan kuyakini pasti ada hikmah. Seperti biasa pagi aku selalu mengantar koran dan pulang untuk mengais sampah lalu dijual kembali. Sesaat aku berpikir meskipun aku hanyalah seorang anak jalanan dalam hadist dikatakan barang siapa ingin bahagia di dunia dan di akhirat maka hendaklah berilmu (HR: Ahmad). Dengan berpikir seperti itu aku tinggalkan sampah-sampah dan berjalan menyusuri,memasuki berbagai sekolah. Namun tak satupun sekolah yang mau menerimaku sebagai siswa.
Perjuanganku tak akan pupus sampai disini, setiap hari ku janalani meskipun belum ada perubahan. Di tengah perjalanan aku selalu menyempatkan untuk berdoa dan selalu shalat sunnah dhuha. Karena dalam Al-Quran dikatakan bahwa siapa yang tawakkal, berusaha keras dan berdoa maka ia akan berhasil juga doanya diijabahi Allah SWT. Kini aku hanya bisa mengaji di musholla terkadang aku juga tidur disana. Meskipun ada penjaga musholla yang tidak punya hati nurani kadan aku diusir mentah-mentah. Waktu berjalan semakin cepat dan aku yakin hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Aku menyusuri sekolah,musholla dan masjid untuk sholat juga berdoa kadang istirahat.
Adzan ashar bergerilya, di sebrang jalan terlihat masjid yang megah dan pertama ini aku jumpai. Sayang sepi tak huni hanya segelintir orang dan adzan berkumandang lalu sholat dan pergi lagi. Setelah sholat aku berdoa dengan berlimpah air mata. Aku merasakan kedamaian dan terdengar ada orang yang menghampiriku. Lalu aku berbalik ternyata pak ustad. Pak ustad bertanya “adik kenapa menangis?”. Aku menjawab dengan air mata masih menetes “saya dikeluarkan dari sekolah dan sudah beberapa hari menyusuri sekolah pak,namun tak satu sekolah yang menerima saya.” Pak ustad”sungguh perjuangan hamba Allah yang mulia. Kenapa adik dikeluarkan dari sekolah?” aku menjawab”tidak ada biaya pak,saya hidup sebatang kara.” Pak ustad menjawab”subhanallah,kalau boleh tahu adik namanya siapa dan orangtua adik kemana?” aku menjawab kembali “Dona pak,saya tidak tahu orangtua saya,dari kecil saya diperbudak penculik untuk mengemis dan sudah lima tahun saya kabur dari penculikan. Alhamdulillah penculiknya sudah ditahan polisi.” Pak ustad”Dona bagaimana kamu tinggal di rumah bapak saja.” Aku “tidak pak nanti malah merepotkan.” Pak ustad “tidak merepotkan,lagian saya belum punya anak. Pasti istri saya nanti senang,karena sudah berkunjung ke panti tetapi tidak ada yang cocok.” Lalu aku pergi ke rumah pak ustad dan disana aku disambut bahagia dengan Bu ustad. Rumahnya seperti istana surga dunia, Bu ustad orangnya sangat baik.
Kini aku merasakan seperti bertemu kedua orangtuaku. Mungkin ini adalah lentera dalam doaku yang selalu aku impikan. Setiap hari aku pergi ke sekolah baruku dan tak lupa ibadahku. Setelah pulang sekolah biasanya aku membagikan ilmuku dengan mengajarkan anak-anak jalanan di sekolah kecil yang aku bangun meskipun fasilitas hanya sedikit. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT telah diberikan jalan lurus di bulan mulia ini. Dan aku selalu berharap dalam doaku untuk dipertemukan dengan orangtua kandungku. Bulan mulia adalah bulan penuh hikmah dan berkah. Dari ujian perjuanganku selama ini alhamdulillah ada dermawan yang membantuku.





Hikmah dari cerita ‘Lentera Doa’
  • Jadilah orang yang kerja keras, pantang menyerah dan tidak  mudah putus asa.
  • Percayalah diri dengan apa yang kita miliki,meskipun oranglain mengejek kita.
  • Di bulan mulia ini pasti amal ibadah akan dilipat gandakan dan doa akan dikabulkan Allah.
  • Cobaan dari Allah pasti ada hikmahnya dan seberat mungkin cobaan itu pasti ada penyelesaiannya.
  • Carilah akhiratmu maka dunia akan menyertai.
  • Jadi orang kita harus memiliki hati nurani dan saling membantu.
  • Jalanilah ibadah dengan ikhlas,jangan riya maka Allah akan memberikan jalan yang lurus.
  • Ketika kita mendapat keberkahan,kekayaan maka bantulah orang yang membutuhkan dengan ikhlas.
  • Bersyukurlah kepada Allah dalam keadaan apapun, baik disaat mampu dan tidak mampu.
  • Apa saja yang dapat kita lakukan dan impikan lakukanlah,asal itu adalah prilaku terpuji.
  • Janganlah menunda-nunda panggilan sholat,karena takdir ilahi kita tidak mengetahui.
  • Janganlah mudah meremehkan dan menertawakan oranglain belum tentu kita lebih baik darinya.







Biodata
Nama               : Devi Kartika Rahayu
Alamat             : Ds Kuluran, Kec. Kalitengah, Kab. Lamongan
Kode pos         :62255
No Hp             :085731584402

0 komentar:

Posting Komentar

 

goresan putih Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea